Kubunuh Kau dengan Bismillah
Untukmu dan untuk semua orang yang membaca tulisan ini baik secara sadar maupun tidak sadar, perlu kuingatkan kepadamu wahai kawan tentang bahaya laten yang senantiasa mengincar keimanan kita sebagai Muslim. Untuk itu, kupersembahkan cerita pengalaman pribadiku untuk kalian semua.
Sore itu, Aku masih berkutat dengan hape kesayanganku, si Noki. Perlu kawan-kawan tahu, Noki telah menemaniku dari
masa-masa ababil kelas 2 SMA hingga sekarang. Hari itu si Noki menerima banyak sekali sms, dari teman yang sedang menggalau di Palopo sana, hingga jarkoman PPAMB yang tetap saja H-1 (anak-anak gelas kopi pasti ngerti), semuanya meminta perhatian yang penuh dan balasan yang cukup singkat. Jadi, jempol kedua tangan ini bergantian untuk saling bahu membahu membalas sms yang membabi buta tersebut. Sampai tiba-tiba, muncul sms dari nomor yang tidak kukenali. dari segi bahasanya, dia termasuk orang yang baru pertama kali menghubungiku. Isinya kurang lebih meminta tolong untuk membantu masalah yang sedang ia hadapi. Heumm, agak aneh memang, tapi tetap saja kuiyakan permintaannya. Tetapi, sebelum itu kuminta ia untuk memperkenalkan diri. Saat kutahu namanya, akupun agak terkejut karena ternyata dia adalah orang yang pernah dekat denganku saat di Palopo, oh iya aku lupa dia perempuan, sebut saja ia Edelweiss (‘cuz mawar is too mainstream, thats why). Okay, singkat cerita, Edelweiss pun memulai menceritakan yang sedang ia alami, dari awal hingga akhir yang menngambil jatah 3 halaman sms. Terlihat masalahnya memang cukup kompleks untuknya, dan wajah bila ia membutuhkan bantuan. Dengan pengalaman yang kumiliki memecahkan masalah dari SMP (ehemm…bukan sombong-red) saya pun memberikan beberapa masukan dan solusi atas permasalahan yang ia miliki. dan nampaknya dia pun puas dengan solusi yang saya tawarkan. Alhamdulillah, akhirnya ada orang terbantu juga hari ini, diriku membatin. AKu kira, hari itu adalah hari terakhir aku menerima sms darinya. Namun aku salah. Sms darinya rutin mengapeli si Noki setiap hari. Isi Smsnya pun beragam, dari sedang apa dan dimana (eh, jadi mirip lagu), sudah makan belum, sudah shalat belum, sudah belajar belum, sudah tidur belum, dan sebagainya. Bodohnya, waktu itu akupun meladeni sms darinya. terkadang kami pun saling berbalas sms hingga larut malam, hingga tanpa disadari pembicaraan yang awalnya santai dan ringan, berangsur-angsung jadi ajang curcok dan pembicaraan yang sudah menjurus hal “itu”, hingga menyentuh hal-hal yang menurut saya privasi. Dia mulai bertanya apakah saya saat itu memiliki pacar, berapa jumlah orang yang pernah saya pacari, bagaimana kriteria cewek idaman saya, dan lain sebagainya. Saya mulai merasa tidak enak dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya terlalu sensitif seperti itu. Apalagi saat itu saya benar-benar tidak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama waktu SMA kemarin. Aku pun mencari alasan untuk menyudahi smsan kami malam itu saat dia menyatakan pertanyaan yang menurut saya sudah tidak pantas ditanyakan oleh seorang perempuan kepada laki-laki. dan Alhamdulillah saya selamat malam ini.
Keesokan harinya, ternyata Edelweiss masih mengirimkan smsnya kepadaku. Hatiku makin risau membaca sms yang ia kirimkan saat itu. Smsnya saat itu sudah dapat dikategorkan “mengerikan” untuk ukuran kepantasan seorang perempuan untuk berkata-kata kepada laki-laki. Kukonsultasikan segera sms-sms itu ke “penasihat” pribadiku. Benar saja, Beliau berpikiran yang sama denganku. Beliau mengkonsultasikan untuk segera “membunuh” rangkaian sms itu dengan sikap yang tegas. dalam hati ini tidak tega dengan apa yang dikonsultasikan oleh sang Penasihat. Namun, hatiku tidak boleh berbohong, Aku harus segera “membunuh” rangkaian sms itu untuk “membunuh” perasaanya. Aku harus mengakhiri apa yang telah kumulai. Aku tidak ingin terjebak dalam situasi dan kondisi yang sama seperti waktu yang lalu. kondisi dan situasi yang memaksaku harus menjalani masa-masa yang “aneh”.
Siang berganti malam, jam tanganku menunjukkan waktu 20.30, seharusnya ia sudah mengirimkan sms kepadaku (sedikit pede). Yak, beberapa waktu kemudian si Noki berdering. dan kembali lagi Ia menyatakan pertanyaan yang sama. hati ini sedikit gentar, namun teringat pengalaman “aneh” saat lalu, Aku pun memberanikan diri.
“Edelweiss, temanku yang baik hatinya. Sungguh baik dirimu menyatakan kata-kata indah itu kepadaku. Sungguh Aku tidak berbohong kepada diriku sendiri ataupun kepadamu, bahwa Aku merasa tersanjung dibuatnya. Sempat Hati ini berusaha menolaknya, namun agaknya Kata-katamu itu sungguh membuatku terbuai. Terima kasih sebelumnya kukatakan kepadamu. Namun Edelweiss, adalah salah jika kau mengatakan hal itu kepadaku sekarang. Belumlah pantas engkau mengatakan itu sekarang, bahkan, tidaklah pantas seorang perempuan mengatakan itu kepada laki-laki. Engkau bukanlah mahramku. Belumlah halal bagimu untuk memikirkanku sebagaimana engkau mengharapkanku untuk memikirkanmu. Ketahuilah wahai saudariku, hal yang sedemikian itu adalah zina. Zina yang menurutku sangat berbahaya bagi kita berdua. Zina hati. Untuk itu, ada baiknya jika kamu tidak lagi berkomunikasi dengan bahasa dan kata-kata yang seperti itu, sungguh kata-kata itu hanyalah cocok kepada pendamping hidupmu kelak. mohon maaf sebelumnya, kuharap hal ini tidak mengubah persabahatan kita.”

